Postingan

seleksi amal

pernahkah terpikir apa yang dulu kita ingat sebelum terlahir didunia ini? sebelum jasad terbentuk, sebelum ruh ditiup, sebelum kita menangis menghirup udara... katanya ruh kita ditanyai Tuhan beberapa pertanyaan mengenai takdir, katanya ruh kita diberikan waktu tengat untuk meninggalkan jasad, katanya ruh kita menyanggupi segala penawaran yang Tuhan berikan untuk kita saat nanti terlahir didunia. adakah seseorang yang mengingat semua penawaran itu? adakah yang tahu takdirnya sendiri seperti apa yang ditetapkan oleh Tuhan dahulu terhadap dirinya? apakah ruh dapat menyimpan dan mengingat semua percakapan yang pernah dia dengar dan ucap? jika memang kita bisa membongkar ingatan ruh kita sendiri maka tak ada lagi misteri tentang takdir kita sendiri yang sedang dijalani dan apa yang akan terjadi dikemudian hari termasuk kapan kita akan meninggal... namun siapa yang bisa? tak seorangpun... adakah jalan yang lain untuk mengetahui takdir kita? ada... bagaimana caranya? melihat is...

Kisah Perjuangan NABI MUHAMMAD S A W

Gambar

Foto pangrango dari gede

Gambar
Hanya sharing gambar

Makhluk sosial bukan makhluk pengguna jejaring sosial

Saya yakin diantara anda pasti ada yang pernah merasa jenuh terhadap jejaring sosial. Apapun brand nya tetap saja saat anda jenuh anda bingung dan bisanya langsung mengshare kejenuhan anda di jejaring tersebut semisal "BETEEEEEE", "BT tingkat dewa", "Mulai jenuh", "Membosankan", dls. Lantas saat anda merasa seperti itu apa yang akan anda lakukan? Biasanya seseorang mengatasi kejenuhan dengan bermain, ngobrol bersama teman, nonton bareng teman, dls. Kejenuhan ini akan hilang saat kita benar-benar bertatap muka langsung dengan teman-teman kita, bukannya bertatap foto melalui sebuah "kotak-ajaib". Berdasarkan buku sosiologi terbitan manapun, intinya menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Nah dari situlah ada suatu keharusan manusia untuk berinteraksi satu sama lain di dunia nyata melalui komunikasi yang interaktif. Dari interaksi di dunia nyata kita akan merasakan ekspresi sebenarnya dari lawan bicara kita, bukan ekspresi bo'...

Menulis saja

Sebenarnya apa yang akan saya tulis ini tidaklah terkonsep dengan benar, namun itu tidaklah menghambat kreatifitasku untuk menulis. Memang sebenarnya tulisan yang tidak direncanakan belum tentu bernilai baik. Namun nilai dari tulisan seperti ini adalah pembiasaan. Sangat disayangkan apabila ada waktu yang terbuang untuk diam, ataupun berpikir berlama-lama. Namun dengan menulis terlebih dahulu, hal ini akan menstimulasi otak untuk berpikir kemudian. Memang pada awalnya tulisan tidak akan terlalu "bernilai" namun seiring perjalanan waktu, saat apa yang dahulu dituliskan dibaca ulang, pastilah ada suatu pemikiran lain yang timbul untuk memperbaiki nilai dari tulisan ini sehingga secara bertahap terdapat suatu perbaikan-perbaikan yang menjadikan tulisan yang awalnya asal-asalan menjadi tulisan yang berkualitas. Sehingga pembaca akhirnya merasa bahwa tulisan ini memang bermanfaat bagi mereka.

Memikirkan Langkah

Kemarin saat jalanan hujan dan bekasnya becek (gak ada ojek, cape deeh) saya berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah. Biasanya perjalanan dari setelah jalan raya menuju rumah melewati jalan setapak itu terasa cepat, bahkan tidak terasa ternyata sudah sampai di tujuan. Namun berbeda dengan kemarin. Kemarin perjalanan dari tempat yang sama menuju tujuan yang sama pula terasa sangat lama. Dan setelah saya bandingkan ternyata penyebabnya ada pada langkah. Dahulu saat saya merasa lebih cepat dalam melangkah karena saya hanya terfokus pada tujuan bagaimana saya sampai di tujuan akhir saja. Namun kemarin fokus saya berubah selain sampai di tujuan saya juga memikirkan bagaimana agar setelah sampai tidak ada satu noda kotorpun yang menempel di celana akibat beceknya jalan tadi. Kesimpulannya, suatu pekerjaan akan terasa menghabiskan waktu yang lama (seakan tidak akan selesai) saat anda selalu memikirkan dan memperhatikan setiap langkahnya. Dan dari hal itu anda akan dapatkan tujuan ...

Saya Dipandangan Mereka

Kemarin saat pelaksanaan LDKM, ada suatu games sejenis quesioner. Isinya pengambilan pendapat tentang kekurangan dan kelebihan setiap orang yang ada didalam ruangan. Pengisiannya dengan menulis nama di bagian atas kertas dan kekurangan di baris pertama. Peserta diberi waktu 10 hitungan untuk mengisi satu kekurangan beserta kelebihan dan setelah itu kertas itu di estafetkan sehingga terisilah banyak penilaian dari orang lain yang sebagian telah mengenal saya dan sebagian lagi tidak mengenal saya. Hasil penilaiannya menunjukkan bahwa kekurangan saya itu yakni pendiam, dan terlalu kalem. Dan kelebihan saya itu menurut mereka rajin, supel, pinter, baik, cerdas dan badan (mungkin maksudnya proporsional). Dari penilaian orang lain tersebut saya menyadari bahwa hampir semua nyaris ada pada diri saya terlepas dari kesungguhan atau hanya sekedar asal nilai. Namun dari hal tersebut saya berkaca bahwa memang seperti inilah saya.